Ulasan Film Little Women

Saya hanya berpura-pura jadi orang yang lebih berani dari diri saya yang sesungguhnya. Apakah saya benar-benar bisa? Saya tak yakin.”

Greta Gerwig Berhasil Segarkan Karya Sastra Klasik

Pikiran itu lah yang berputar terus di kepala Greta Gerwig setelah dirinya keluar dari ruang pertemuan Sony Pictures. Saat itu ia belum memiliki pengalaman jadi sutradara, namun berani menawarkan dirinya untuk menyutradarai film Little Women- karya klasik yang memang memiliki tempat spesial di hati penikmat-penikmat literature dan juga rakya Amerika Serikat.

Akan tetapi, akhirnya Sony tidak salah pilih. Pada akhirnya, Gerwig berhasil meramu kisah klasik yang ditulis oleh Louisa May Alcott tersebut jadi suguhan yang sangat segar. Tak Cuma itu, bahkan ia juga bisa menambahkan makna yang tidak terasa dalam 3 adaptasi yang sebelumnya, kemudian juga ditambahi dengan bumbu romansa dan humor yang pas.

Little Women sendiri bercerita tentang kakak beradik perempuan dari keluarga March, yakni Meg (Emma Watson), Beth (Eliza Scanien), Amy (Florence Pugh) dan Jo (Saoirse Ronan). Mereka lahir di tengah keluarga miskin ketika Perang Dunia I berlangsung. Dan mereka bingung mengejar mimpi sembari melawan stigma tentang perempuan di masa itu.

Di seberang rumah sederhana keluarga togel online March, berdiri lah megah kediaman keluarga Lawrence, di mana Tuan Lawrence (Chris Cooper) yang sangat kaya raya dan cucunya, Laurie (Timothee Chalamet), tinggal bersama. Akhirnya kedua keluarga ini tinggal bersama dan bersahabat kemudian bisa saling mengisi.

Ulasan Little Women dari Segi Cerita

Dari segi ceritanya, bisa dikatakan Little Women memang sudah kuat. Buktinya, setidaknya dari 3 adaptasi layar lebar yang sebelumnya, tak ada yang gagal. Adaptasi yang mana pertama yaitu pada tahun 1933 bahkan dinobatkan sebagai Film Terbaik pada ajang penghargaan Oscar.

Nah, bedanya adalah Gerwig menambahkan makna konteks dari kisah ini. Apabila diadaptasi sebelumnya Cuma bercerita tentang March bersaudara, Gerwig seolah-olah merangkum kisah Alcott saat dirinya menulis Little Women, buku yang sebetulnya terinspirasi dari cerita hidup sang penulis sendiri.

Bila dilihat dan dinilai secara keseluruhan, cara bertutur Gerwig ini juga beda dari adaptasi-adaptasi sebelumnya yang menggunakan teknik kronologis. Little Women karya Gerwig ini beralur maju mundur. Namun tetap membuat semua makna lebih tersalurkan. Misalnya saja saat adegan Jo membawa Beth yang tengah sekarat ke pantai. Beth memintanya untuk kembali menulis, demi dirinya yang kemungkinan tidak akan berumur lebih lama lagi.

“Lakukan saja seperti yang diajarkan Marmee (panggilan bagi ibunya). Lakukan untuk orang lain,’ kata Beth sambil bersandar di pundak Jo. Adegan langsung mundur ke momen di mana ibunya menjadi sukarelawan di posko bantuan keluarga korban perang. Marmee di sana terharu melihat seorang bpaak yang merelakan 3 orang anaknya maju ke medan perang.

Hati Marmee juga hancur saat ia sering mengeluh saat suaminya harus ikut perang. Sedangkan, bapak tua ini merelakan semua anggota keluargnya yang dimilikinya demi seisi bangsa. Setelah itu Marmee menerima kabar bahwasanya suaminya tengah sakit di medan perang.

Ia berpikir ia harus segera mnejengkunya, namun ia tak memiliki uang. Akhirnya Jo menjual rambutnya supaya ibunya dapat berangkat merawat ayahnya. Bisa dikatakan Gerwig sukses menyatukan berbagai momen ke dalam satu konteks. Ia bahkan berhasil membuat perpindahan dari satu memon ke selanjutnya yang amat mulus.