Yusril Hadapi Tantangan di Kubu Prabowo dan Jokowi

Wajar saja kalau sebagian orang menilai jadi anomali politik soal kabar Yusril Ihza Mahendra yang akhirnya banting setir berlabuh di kubu Jokowi-Ma’ruf. Apa yang menjadi keinginan Yusril ini disambut dengan baik oleh Ketua Umum PBB (Partai Bulan Bintang) di mana Yusril ingin menjadi kuasa hukum dari Jokowi-Ma’ruf untuk gelaran Pilpres 2019.

Yusril: Macan Kasus pada Pelukan Petahana

Langkah yang diambil Yusril ini dinilai kurang baik dan populer, mengingat rekam jejak dirinya ini sering sekali berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Kiprah dirinya yang ada di dunia advokat juga sering membuat Yusril heat to head dengan pihak pemerintah
judi togel dalam beberapa kasus sengketa Undang-Undang Kenegaraan. Bahkan yang terakhir, tentang UU Ormas dengan permasalahan HTI di dalamnya.

Kalau dihitung-hitung secara politik, konfigurasi dukungan PBB juga berpotensi berubah, tidak lagi begitu-begitu saja. Padahal, dalam sejumlah kesempatah, PBB sering kali ‘genit’ dan memberikan sinyalnya pada kubu Prabowo.

Sepak Terjang Yusril Ihza Mahendra di Kancah Politik

Sebetulnya, nama Yusril ini sudah lama beken dari awal kemunculannya di kancah teater politik. Sebagai seorang politikus, namanya begitu melejit saat lolos dari jerat Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) tahun 2012 silam. Kejaksaan Agung pasalnya menghentikan kasus korupsi yang mana menyeret pria kelahiran Bangka Belitung itu.

Namun makin tua, pria itu makin jadi saja setelah dirinya bisa memenangkan 7 kali beberapa kasus pada tingkat PTUN sampai dengan Mahkamah Konsititusi. Kepiawaiannya terakhir kali kembali dibuktikannya saat mewakili PBB ‘menyihir’ Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) meloloskan partainya pada Pemilu 2019. Lewat sidang ajudikasi, KPU harus mau rela membatalkan keputusannya menggugurkan PPB pada bulan Februari lalu. pada mulanya, KPU menerbitkan SK (Surat Keputusan) Pemilu Nomor 58 / PL.01.1.Kpt/03/KPU/II/2018 yang menyebutkan bahwa PBB tidak lolos verifikasi factual.

Yusril sendiri dikenal mewakili sederet cendekiawan Melayu yang mana menekuni ilmu falsafah, hukum dan juga kesenian bersamaan. Tidak berlebihan, profesinya bervariasi, mulai dari dosen, penulis sampai dengan hukum tata negara, politikus, pengacara sampai dengan bintang film.

Dari panggung akademis misalnya, pria yang bergelar Datuk Maharjo Palinduang, 62 tahun yang lalu itu menamatkan kuliah S1 di jurusan Ilmu Filsafat di Fakultas Sastra UI (Universitas Indonesia). Pria Payakumbuh, dengan keturunan Johor, Malaysia, tersebut lalu mengambil gelar Masternya di University of the Punjab, Pakistan, di tahun 1985.

Kemampuan analisisnya makin diasah dengan tajam saat ia mengejar gelar doktorya di Ilmu Politik Universitas Sains Malaysi yang akhirnya diraihnya pada tahun 1993.

Orde baru adalah masa awal perkenalannya di kancah politik. Setidaknya Yusril sudah meracik 204 naskah pidato untuk presiden yang mana terkenal dengan ‘daripada’nya itu. pengagum gerakan Masyumi akhirnya mengkhatamkan profesinya tersebut pada rentang tahun 1996-1998. Saat momentum reformasi akhirnya pecah, Yusril jadi salah satu pihak yang mana mendukung perubahan politik di Indonesia.

Saat itu Yusril juga berperan besar khususnya saat ia menuliskan pidato berhentinya Soeharto. Ia bersama dengan para reformis muslim, mendirikan partai politik bernama Partai Bulan Bintang. Partai itu digagas oleh 22 ormas Islam. Dalam partai itu, Yusril duduk di jabatan ketua umum dari 1998 sampai dengan 2005.

Yusril juga pernah jadi menteri di cabinet pemerintah misalnya sebagai Menteri Hukum dan Perundang-Undangan, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Sekretaris Negara pada era SBY.